Adat Pernikahan Minangkabau | Menurut adat yang lazim di Minangkabau seorang yang beristri maka silaki-laki yang datang kerumah istrinya. Dalam adat Minangkabau ia dinamakan "urang sumando" (orang semenda). Hubungannya dengan isterinya dan keluarga istrinya hanya selama mereka masih merupakan suami istri.

Sang suami tidak mempunyai kekuasaan apa-apa dirumah istrinya terutama dalam harta pusaka. Sebab seorang semenda itu sama dengan abu diatas tunggul, datang angin kencang dia terbang. Kalau terjadi perceraian ia boleh angkat kaki dari rumah istrinya dengan membawa pakaian saja. Malahan di-setengah negeri seorang suami yang malang turun dari rumah istri yang diceraikannya hanya dengan selembar celana kolor saja sebab ternyata istrinya seorang perempuan yang garang.


Tetapi adapula seorang suami yang berpengaruh dalam rumah istrinya sehingga segala pendapatnya didengar, ini namanya "semenda ninik mamak". Namun harta dalam rumah istrinya tak juga boleh dikutak-katiknya. Hanya harta pencarian atau harta yang dibawanya kerumah istrinya yang boleh dikuasainya atau apa yang disebut "harta surang".
Membuat Sebuah Penghulu Baru | Adapun gelaran datuk itu pada setengah negeri ayang dipergiliran memakainya dari sebuah rumah ke rumah yang lain karena sama-sama berhak karena sebuah perut. Tetapi ada pula yang menyimpang atau dinamakan juga: menggunting siba baju yakni membuat sebuah penghulu baru sebab anak buah bertambah banyak juga. Ini dinamakan dalam adat ayam gedang seekor selesung, berpayung sekaki seorang, bertombang sebatang seorang.



Misalkan gelaran yang asli Datuk Bagindo, lalu penghulu baru iru digelarkan dengan Datuk Bagindo nan Panjang. Dan kalau masih berkembang lalu muncul lagi Datuk Bagindo nan Kuniang atau Datuk Bagindo nan Hitam. Tetapi dahulunya mereka sama-sama berasal dari sebuah perut. Sebab itu dalam sebuah negeri kerap ditemui nama-nama gelaran yang begini karena dulunya mereka sama-sama berasal dari satu kaum.

Tetapi ada pula dalam beberapa negeri hal seperti itu tidak diizinkan, orang hanya melanjutkan gelaran yang lama biar beberapa buah rumah sebab dianggap memecah kesatuan dan akan mungkin menimbulkan ekses-ekses yang kurang baik misalnya berebut harta pusaka.
Batagak Penghulu | Mendirikan atau membangun penghulu secara adat yaitu dengan memperalekan atau menjamu anak negeri dengan menyembelih kerbau dengan persediaan beras seratus gantang. Sebagai kata adat: Kuah dikacau, daging dilapah. Dan tidak boleh dengan ternak lain seperti sapi atau kambing walaupun harganya berlipat ganda dari seekor kerbau. Dan lebih meriahnya lengkap dengan adat upacaranya, bunyi-bunyiannya, seperti gedang dan terompong, tabuh dan nobat, tertegak panji dan merawal, serta diiringi letusan bedil dan setinggar.

Batagak Penghulu. sumber: http://sumbarminang.blogspot.co.id
Dizaman sekarang peralatan penghulu itu dibuat bersama-sama yaitu menegakkan beberapa orang penghulu sekaligus. Peralatan bersama dalam negeri untuk mengentengkan biaya peralatan dirumah tangga dan tambah memeriahkan. Sebab semuanya tentulah harus disesuaikan dengan masanya.

Maka semuanya itu dihasilkan oleh sepakai ninik mamak dalam selingkungan dinding, selingkung batu, kemudian selingkung aur, yang biasanya menghasilkan jinjing yang ringan, memikul yang berat, ialah orang-orang yang sepayung penghulu itu juga, sejak awal sampai akhirnya.

Tiap-tiap negeri di Minangkabau didiami oleh beberapa kaum yang keturunannya berasal dari seorang ibu atau sebuah perut namanya. Kepala dari tiap-tiap buah perut itulah yang bernama penghulu andika atau bergelar datuk.
Adat Istiadat Suku Minangkabau | Adat yang sebenar adat itu adalah segala apa-apa hikmah yang diterima dari Nabi Muhammad SAW. berdasarkan firman-firman Tuhan dalam kitab suciNya. Dari sinilah diambil sumber-sumber adat yang sebenarnya sehingga dikatakan: Adat bersandi syara', Syara' bersandi Kitabullah. Demikian pula sebagian besar peradilan adat diambil dan berpedoman dari kitab suci itu pula.

Sekalipun pada masa itu belum ada Universitas Hukum, belum ada alat-alat tulis yang modern tetapi mereka sudah mampu menyusun peraturan-peraturan yang menakjubkan tanpa tertulis diatas kertas hanya dengan dihapal belaka. Dari situlah mereka berpedoman kepada: Alam takambang jadikan guru. Disini pulalah ditentukan istilah-istilah hukum seperti sah dan batal, halal dengan haram, sunat dan perlu, dakwa dan jawab, saksi dan bainah.

Adat yang diadatkan adalah hukum-hukum adat yang diterima dari ninik mamak kita Datuk Ketemenggungan dan Datuk Perpatih nan Sebatang yang pokoknya adalah: cupak nan dua, kata nan empat, undang-undang nan empat dan negeri nan empat.
Kebesaran Penghulu | Sebagaimana sudah dikatakan bahwa penghulu itu tinggi dianjung, gedang dilambuk, yang mempunyai banyak sekali syarat-syarat untuk menjadi seorang penghulu dan tidak ringan. Penghulu yang demikianlah ibarat kayu besar tengah padang tempat berteduh kehujanan, tempat berlindung kepanasan, batangnya tempat bersandar, uratnya tempat bersela.

Penghulu itu mestilah mempergunakan sifat sabar, lurus, harus dan benar, pengasih dan penyayang, serta mempunyai ilmu seperti tukang yang ahli dan cukup sempurna kepintarannya. Juga harus mempunyai alat-alat perkakas yang komplit sebab dengan alat perkakas yang lengkap baru hasil pekerjaan dapat sempurna.

Seorang penghulu harus beralam lebar, berpadang lapang, jauh dari perangai buruk, kisid dan dengki, jauh dari pada dendam kesumat, seperti menjauhkan larangan adat, memerahkan muka ditengah rapat, menyingsingkan lengan baju, menghardik menghantam tanah, berlari dan menjunjung yang berat-berat, serta mengail di tebat panjang atau di sungai.
Larangan utama seorang penghulu adalah seorang penghulu dilarang merusak keamanan dan kesentosaan dalam kampung. Melonjak hilir, melonjak mudik dengan maksud mengacau keamanan dan kesejahteraan dalam kampung. Suka memecah perang dan mengusut yang selesai. Faham ibarat kambing kena ulat, runding bak sarasah terjun, sifat takabur dalam hati. Itulah penghulu yang yang celaka dan hanya membuat kerusakan belaka.


Sebuah lagi sifat penghulu yang kurang patut adalah tidak mengenal diri, pencupak asam garam orang, pembongkar najis dalam lubang, penggantang balacan, dijunjungnya diatas kepala sudah berulat dan berbau tengik, udang yang tak tahu dibingkungnya, tak ingat tahu dijujung diatas kepala, bak mengemping padi hampa, jangankan beras yang akan jadi abu saja tidak bersua. Inilah penghulu yang lebih jahat lagi dan dapat dikatakan penghulu jahanam. Penghulu dengan sifat-sifat diatas  tidaklah pantas jadi penghulu dan harus disingkirkan.
Adapun Luhak Lima Puluh Kota terbagi 3 daerah yaitu: luhak, ranah dan kelarasan. Luhak adalah pemerintahan laras nan buntar sehingga Simalanggang hilir terus ke Taram. Ranah adalah pemerintahan laras Batang Sinamar sehingga Simalanggang mudik dan kehilirnya ranah Tebingtinggi dan kemudiknya Mungkar. Laras adalah Laras Nan Panjang sehingga Taram hilir kemudiknya Pauh Tinggi.

Masuk kedalam bagian luhak adalah: Suayan, Sungai Belantik, Sarik Lawas, Tambun Ijuk, Koto Tangah, Batu Hampar, Gurian Gadang, Babai, Koto Tinggi, Air Tabit, Sungai Kemuyang Situjuh Bandar Dalam, Limbukan Padang Kerambil, Sicincin dan Aur Kuning, Tiakar, Payobasung, Mungo, Andalas, Taram, Bukit Limbuku, Batu Balang dan Koto nan Gadang.

Yang termasuk ranah adalah: Ganting, Koto Lawas, Suliki, Sungai Rimbang, Tiakar, Balai Mansiro, Talago, Balai Talang, Balai Kubang, Taeh Simalanggang, Piobang, Sungai Baringin, Gurun Lubuk Batingkap, Taratang, Sarilamak, Harau, Solok Bio-bio (Padang Lawas).

Bagian dari laras adalah: Gadut Tebingtinggi, Sitanang Muaro Likin, Halaban dan Ampalu, Surau dan Labuh Gunung.
Luhak Agam memakai adat Koto Piliang dan adat Bodi Caniago. Yang memegang adat Koto Piliang dahulu pemimpinnya Datuk Bandaro Panjang berkedudukan di Biaro. Adat Bodi Caniago dahulu pemimpinnya Datuk Bandaro Kuning tempatnya di Tabek Panjang Baso.

Yang masuk adat Datuk Ketemenggungan adalah 16 koto yang terdiri dari: Sianok, Koto Gadang, Guguk, Tabek Sarojo, Sarik, Sungai Puar, Batagak, Batu Palano, Lambah, Panampung, Biaro, Balai Gurah, Kamang Bukit, Salo, Magek.


Daerah itulah yang dinamakan Ampat Angkat atau empat-empat mereka sama-sama berangkat. Disini tidak ada penghulu yang bergelar pucuk.

Selain dari 16 koto itu semuanya beradat Bodi Caniago atau Datuk Parpatih Nan Sabatang yang daerahnya adalah: Kurai, Banuhampu, Lasi, Bukit Batabuh, Kubang Putih, Koto Gadang, Ujung-Guguk, Candung, Koto Lawas, Tabek Panjang, Sungai Janih, Cingkaring, Padang Luar. Semua kebesaran dinegeri ini memakai pucuk.

Adapun batas Luhak Agam adalah: dari Lada Sula (Koto Baru) sampai kehilirnya Dusun Tinggal (Titi Padang Tarab) tempat empangan air proyek PLTA Batang Agam pada zaman sekarang


Martabat Penghulu | Sesudah terbentuk luhak yang tiga itu dibangunlah penghulu disetiap koto yang akan menjadi wakil raja. Para penghulu itulah yang akan menegakkan hukum, memegang adat dan peraturan yang sebenar-benarnya pada setiap negeri di Alam Minangkabau ini. Mereka harus menyuruh orang kepada jalan kebaikan dan melarang kepada jalan yang salah.

Ilustrasi Penghulu Minangkabau

Penghulu yang benar-benar memegang fungsi dan tugasnya akan menyelamatkan negeri dan membuat keamanan dalam negeri. Keamanan itu sangat penting. Zaman dahulu para penghulu benar-benar memegang tugasnya dengan taat sehingga keamanan dapat dihandalkan. Maka zaman dahulu tidak diperlukan polisi untuk menjaga keamanan. Tidak diperlukan tentara.

Penghulu itu sepanjang adat Minangkabau bergelar: datuk karena tinggi dianjung, gedang diambar dan terjadi karena kata mupakat. Martabat orang jadi penghulu ada 6 perkara:

  1. berakal
  2. berilmu
  3. kaya (maksudnya murah berkata-kata yang menuju kebaikan)
  4. murah dari pihak hartanya
  5. jaga dan ingat
  6. sabar hatinya kepada anak kemenakannya


Sebab kemenakan itu akan berkembang biak juga dan tentu akan sengsara hidup mereka jika mamaknya hanya seorang penghulu yang pintar memperdalam gadaian, menggadaikan harta pusaka, memindahkan gadaian dan tidak pernah menebus atau memegang harta lain dengan hasil harta pusakanya. Karena harta pusaka itu harus dikembang biakkan: sawah ladang ditambah dengan memegang sawah yang baru, atau meneruko sawah yang baru, mengembang biakkan ternak dan usaha-usaha lainnya.


Walaupun demikian ada juga jalannya dimana harta pusaka itu boleh digadaikan, yaitu atas 4 perkara:

  1. rumah gadang ketirisan.
  2. gadis gedang tak bersuami
  3. mayat terbujur tengah rumah
  4. menegakkan penghulu
Kalau sampai dalam salah satu perkara yang empat itu lebih dahulu harus diusahakan dengan hasil harta pusaka itu terlebih dahulu dan kalau tak mungkin baru boleh menggadai. Tidak pula penghulu itu sendiri langsung menggadaikan tetapi atas kesepakatan anak kemenakannya pula, bulat boleh digolongkan, picak boleh dilayangkan. Sebab penghulu hanya mengawasi saja atas harta pusaka itu sebagai kata pepatah: "Ganggam beruntuk pegang nan bermasing". (H. Datuk Tuah)